![]() |
| Istimewa |
Sensor mandiri adalah sebuah program yang diluncurkan oleh Lembaga Sensor Film (LSF) untuk mengajak para pemilik film dalam memproduksi film-filmnya. Secara garis besar, program Sensor Mandiri ini membuka ruang kepada masyarakat dan keluarga untuk memberikan kontribusi atas kelayakan sebuah film atau acara televisi.
Namun lebih luas lagi, Sensor Mandiri adalah sebuah kampanye untuk mengajak masyarakat agar dapat lebih bijak dan dewasa untuk memilah-milah layak atau tidaknya sebuah tontonan. LSF sudah mengatur pada Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2009 tentang perfilman dan Peraturan Pemerintah Nomor 18 tahun 2014 tentang Lembaga Sensor Film.
LSF, lembaga yang mengontrol peredaran dan penayangan film masyarakat diberikan jaminan atas kelayakan tontonan yang beredar. Meski begitu, ada kalanya sebuah lembaga memiliki keterbatasan apalagi jika mengikuti perkembangan teknologi yang berlari dengan sangat cepat. Ditambah lagi dengan keberagaman budaya masyarakat sehingga terkadang sebuah keputusan terkait sensor melahirkan pro kontra di daerah-daerah tertentu.
Muhammad Ikhsan, salah satu wartawan di Depok yang akrab dipanggil Bang San mengatakan bahwa dalam penerapan itu pun Sensor Mandiri pastinya memiliki dampak positif ataupun negatifnya di lingkungan, begitu pun di lingkungan keluarga.
“Dampak positif dengan penerapan sensor mandiri pada tingkat keluarga, kita dapat mengontrol film atau tayangan televisi yang dapat dinikmati keluarga sehingga bisa terhindar dari konten-konten negatif, hoax dan tendensius. Begitu pun dampak negatifnya, ketika kita melarang anak untuk tidak melihat sesuatu, hal tersebut justru membangkitkan rasa penasaran anak, dan akhirnya mereka mencari tahu sendiri lewat media lain,” ucap Bang San.
Bang San menambahkan, diperlukannya pemahaman layak atau tidaknya sebuah konten bagi setiap orang, lalu dijelaskan dengan sejelas-jelasnya kepada anggota keluarga kenapa tayangan tersebut tidak layak untuk ditonton.
“Yang utama adalah pemahaman akan layak atau tidaknya sebuah tayangan atau film untuk ditonton usia-usia tertentu. Bahkan lebih luas lagi tak sekedar usia, tapi juga tingkat pemahaman anggota keluarga akan sebuah tayangan,” ujar Bang San.
Dalam hal penerapannya pada tingkat keluarga, Bang San mencontohkan bahwa dirinya, menghapus saluran salah satu stasiun TV swasta dari televisi yang ada dirumah karena tak ingin keluarga mendapatkan informasi-informasi hoax dan tendensius dari tayangan berita disaluran tersebut.
Contoh lainnya, pada jam-jam premium (antara jam 19-21) Bang San mematikan TV dirumah karena waktu-waktu tersebut menurutnya adalah waktu berkualitas untuk keluarga.
“Saya atau istri bisa membantu anak mengerjakan pekerjaan rumahnya, atau sekedar bercanda dan berinteraksi. Sementara pada jam lain, saya atau istri selalu melihat atau mengontrol tayangan yang ditonton anak,” jelasnya.
Secara umum Sensor Mandiri merupakan salah satu kampanye masyarakat yang sangat efektif untuk memilih dan memilah tayangan yang ditonton. Namun yang lebih penting dalam penerapannya, setiap individu harus memahami konten-konten apa saja yang sesuai untuk dirinya dan orang-orang disekitarnya sesuai dengan tingkat umur dan pemahamannya.
Ditulis oleh Hana Nurul Jannah

Posting Komentar